Rabu, 22 Juni 2011

Gula sebagai katalisator industri

Peneliti-peneliti dari Jepang berhasil menemukan bahwa gula dapat dipergunakan sebagai katalisator dalam proses produksi biodiesel. Hasil penelitian tersebut dipublikasikan dalam majalah ilmiah terkemuka Nature edisi 438 tanggal 10 November 2005. Dalam penelitian tersebut terlebih dahulu dilakukan pirolisa gula pada suhu di atas 300 derajat Celsius untuk membentuk struktur karbonasi yang tidak sempurna, kemudian ditambahkan gugus sulfonat, dan akhirnya terbentuk struktur lembar karbon polisiklis aromatik berisikan gugus sulfonat. Senyawa inilah yang dijadikan katalis dalam produksi biodiesel. Dengan penemuan ini produksi biodiesel melalui proses transesterifikasi menjadi relatif lebih hemat biaya produksi.
Proses Transesterifikasi dan Produksi BiodieselProduksi biodiesel dari tumbuhan yang umum dilaksanakan yaitu melalui proses yang disebut dengan transesterifikasi. Transesterifikasi yaitu proses kimiawi yang mempertukarkan grup alkoksi pada senyawa ester dengan alkohol. Untuk mempercepat reaksi ini diperlukan bantuan katalisator berupa asam atau basa. Asam mengkatalisis reaksi dengan mendonorkan proton yang dimilikinya kepada grup alkoksi sehingga lebih reaktif.Pada tanaman penghasil minyak, cukup banyak terkandung asam lemak. Secara kimiawi, asam lemak ini merupakan senyawa gliserida. Pada proses transesterifikasi senyawa gliserida ini dipecah menjadi monomer senyawa ester dan gliserol, dengan penambahan alkohol dalam jumlah yang banyak dan bantuan katalisator. Senyawa ester, pada tingkat (grade) tertentu inilah yang menjadi biodiesel. Dalam proses transesterifikasi untuk produksi biodiesel dari tumbuhan, biasanya digunakan asam sulfat (H2SO4) sebagai katalisator reaksi kimianya.Selain proses transesterifikasi, dalam produksi biodiesel juga melalui tahapan : pengempaan jaringan tanaman (misalnya biji) menghasilkan minyak mentah ; pemisahan (separator) fase ester dan gliserin ; serta pemurnian / pencucian senyawa ester untuk menghasilkan grade bahan bakar (biodiesel).
Skema sederhana produksi biodiesel melalui proses transesterifikasiGula, sebagai Katalisator Produksi Biodiesel, manfaat bagi IndonesiaMeskipun berbagai jenis bahan kimia dianggap cukup berhasil dipergunakan sebagai katalisator dalam proses transesterifikasi untuk produksi biodiesel, akan tetapi bahan-bahan seperti ini dianggap cukup mahal untuk dipergunakan dalam suatu proses produksi berskala besar. Di samping itu, limbah bahan-bahan kimia ini tentunya akan menjadi masalah lingkungan tersendiri.Penggunaan gula yang telah diubah bentuknya cukup prospektif untuk dipergunakan sebagai katalisator proses transesterifikasi ini. Gula sebagaimana kita ketahui, merupakan senyawa organik yang limbahnya dapat didaur ulang. Selain itu, gula dianggap relatif lebih murah untuk dipergunakan untuk sebuah proses produksi berskala besar, dibandingkan bahan kimia asam sulfat atau asam dan basa lainnya.Berita hasil penelitian ini tentunya cukup bermanfaat bagi Indonesia. Indonesia melalui koordinasi Menko Kesejahteraan Rakyat, saat ini sedang giat-giatnya mengkampanyekan pengembangan energi terbarukan 'biodiesel', terutama dari tanaman jarak pagar (Jatropha curcas). Salah satu BUMN yang cukup mendukung pengembangan biodiesel ini adalah PT. RNI (Rajawali Nusantara Indonesia). Sebagai badan usaha yang mempunyai bidang usaha utama (core business) pada manajemen pabrik gula nasional, hasil penelitian ini dapat dijadikan masukan dalam meningkatkan efisiensi produksi biodiesel, yaitu dengan menggunakan gula sebagai katalisator produksinya.

sumber : http://iptb.blogspot.com/

Minggu, 29 Mei 2011

The LifeStraw makes dirty water clean

By Mike Hanlon
More than one billion people – one sixth of the world’s population - are without access to safe water supply. At any given moment, about half of the world's poor are suffering from waterborne diseases, of which over 6,000 – mainly children – die each day by consuming unsafe drinking water. The world’s most prolific killer though is diarrhoeal disease from bacteria like typhoid, cholera, e. coli, salmonella and many others. Safe water interventions have vast potential to transform the lives of millions, especially in crucial areas such as poverty eradication, environmental upgradation, quality of life, child development and gender equality. LifeStraw was developed as a practical response to the billions of people who are still without access to these basic human rights.

The aptly-named LifeStraw is an invention that could become one of the greatest life-savers in history. It is a 25 cm long, 29 mm diameter, plastic pipe filter and costs just a few dollars (the manufacturers originally informed us the price was around US$2.00 but the price is now under review and we'll be posting a new price shortly. The most prolific killer of human beings in developed countries is the automobile, followed by a host of diseases resulting mainly from an indulgent lifestyle.

Millions of people perish every year because they simply don’t have clean water to drink. Until now, there was not much we could do about this because systems to clean water were costly and required electricity and spare parts and and and … but the LifeStraw now offers a viable means of saving tens of millions of lives every year.

LifeStraw is a personal, low-cost water purification tool with a life time of 700 litres – approximately one year of water consumption for one person. Positive test results have been achieved on tap, turbid and saline water against common waterborne bacteria such as Salmonella, Shigella, Enterococcus and Staphylococcu.
If we (as in the big WE) can find a way of manufacturing and distributing one of these to each human at risk, every year, we could save countless lives (now there’s a noble outcome for the tech blogs and mags of the world to work together to promote this). Each LifeStraw lasts for one person’s annual needs of clean water – a simple straw costing a few dollars will ensure that one at-risk person will not die for a year - now that's a donation we can all make with a serious kicker!

This LifeStraw was designed with special emphasize on avoiding any moving parts, as a sealed unit with no replaceable spare parts, and avoiding the use of electricity, which does not exist in many areas in the 3rd world. But as force (power) is required to implement the filtering, Vestergaard Frandsen chose to use the natural source of sucking, that even babies are able to perform. A brief technical rundown is available at MedGadget, the internet journal of emerging medical technologies.

Vestergaard Frandsen have managed to produce this product at a price that people in this business find hard to believe, but believed it had to achieve a price affordable to the Third World consumer.
The original idea was created ten years ago by Torben Vestergaard Frandsen, but over the years in partnersjhip with The Carter Center, Rob Fleuren from Holland and Moshe Frommer from Israel, the Lifestraw emerged from work designed to make water filters capable of safeguarding against Guinea Worm. The invention which emanated from the work, the, LifeStraw, can keep away bacteria and diseases like diphtheria, cholera and diarrhoea.

We’ll have more information on LifeStraw in the next week . In the meantime, LifeStraw has been nominated for a prestigious and vitally important INDEX: AWARDS
INDEX: Awards focus specifically on design that significantly improves life for a large number of people and there’s a lot more information available in their nomination lists on the LifeStraw.
The LifeStraw web site is now open. Our suggestion is that if you are involved in a charity or community group, you make your group aware of this invention and its potential to improve the lives of millions of our less fortunate planetary brethren.

In the meantime, LifeStraw supplied this list of FAQs
Q1. What is LifeStraw? LifeStraw is a portable water purification tool that cleanses surface water and makes it safe for human consumption. It is just 25 cm long and 29 mm in diameter and can be hung around the neck. LifeStraw requires no electrical power or spare parts.

Q2. What does LifeStraw do? LifeStraw filters up to 700 litres of water and effectively removes most of the micro organisms responsible for causing waterborne diseases.

Q3. Which diseases will LifeStraw prevent? LifeStraw kills disease causing micro organisms which spread diarrhoea, dysentery, typhoid, and Cholera.

Q4. Which disease-causing micro organisms are filtered by LifeStraw? LifeStraw filters bacteria such as Shigella, Salmonella, Enterrococus, Staphylococcus Aureus and E.Coli

Q5. Are there any tests to prove this? LifeStraw has been tested by independent and qualified research laboratories.

Q6. How does LifeStraw function? LifeStraw contains PuroTech Disinfecting Resin (PDR) - a patented, extraordinarily effective material that kills bacteria on contact. Textile pre-filters are used in the LifeStraw to remove particles up to 15 microns. Active carbon withholds particles such as parasites.

Q7. What do the tests and research studies indicate? The studies indicate the following:
The level of bacteria in the water will be reduced to levels that will provide water safe for human consumption. ‘Safe’ implies water from which any health risk is minimal. The particulate removal suggests that the number of any parasitic ova in raw water will also be reduced significantly. The released amount of iodine in water treated from LifeStraw is not normally damaging to human health. However, people having thyroid problems and allergic reaction to iodine must seek medical advice before using this tool.

Q8. What is the life expectancy of the LifeStraw? One year from the start of usage (calculation based on consumption of 2 litre water per day) or 700 liters. Use beyond expiry will not deteriorate existing water quality.

Q9. What is the required daily water consumption? The WHO default levels for the quantities of drinking water (reference to WHO drinking water quality guidelines Third edition 2004, Annex III), are: For a 10 kg child, 1 litre water per day - thus 700 days tool For a 60 kg adult, 2 litre water per day - thus a 350 days tool

Q10. Who can use the LifeStraw? Adults and children of any age can use the LifeStraw, provided they have capacity to suck water

Q11. How should LifeStraw be used the first time? First time users are advised to spit out the first couple of mouthfuls (40 ml) as a small amount of harmless black carbon water will be expelled on initial use. First time users may find it difficult to start sucking. This is because a natural brake on the flow of water has been put into the LifeStraw, as a controlled flow between 100 ml to 150 ml per minute is needed to get the maximum benefit of the bacteria killing effect.

Q12. How can LifeStraw be effectively utilised? At regular intervals, it is recommended to blow out the last mouthful of water as well as some air through the LifeStraw. This will clean the pre-filters of whatever sand, silt and debris that might have got stuck in the textile filters.

Q13. Does LifeStraw filter arsenic, iron, fluoride and other heavy metals? No. Q14. What is the impact of saline water on the lifetime of LifeStraw? It is expected that continuously drinking saline water through the LifeStraw would reduce effective life to 350 litres.

Q15. Can I share my LifeStraw with other people? It is not recommended that you share your LifeStraw with others. Any outside contamination of the LifeStraw will not be compensated by inside purification.

Rabies


 Dituangkan dalam IbM Rabies
Oleh Stikes Majapahit Singaraja (Bungkulan)
Penyakit anjing gila (rabies) adalah suatu penyakit menular yang menyerang susunan syaraf pusat, yang disebabkan oleh virus rabies jenis Rhabdho virus yang dapat menyerang semua hewan berdarah panas termasuk manusia. Rabies menjangkiti lebih dari 150 negara di seluruh dunia. Diperkirakan lebih dari 55000 orang meninggal akibat rabies per tahunnya. Di Indonesia, beberapa daerah provinsi dilanda penyebaran rabies dengan tingkat yang mencengangkan.  Satu diantaranya adalah provinsi Bali. Upaya untuk menangkis penyebaran rabies di Bali sangat penting karena Bali merupakan destinasi pariwisata dunia. Berbagai upaya untuk menanggulangi rabies telah banyak dilakukan, yaitu melalui, (1) vaksinasi Var terhadap anjing, (2) eleminasi anjing liar,  (3) pengawasan terhadap lalu lintas hewan, terutama anjing dan kucing ke wilayah yang belum terindikasi rabies, (4) pembuatan posko pengaduan bagi mereka yang tergigit anjing. Namun upaya yang dilakukan itu belum mampu membendung penyebaran rabies di tanah air, terutama di Bali. Saat ini sudah dilakukan vaksinasi anjing sekitar 360.000 ekor dari perkiraan 500.000 populasi anjing di Bali, namun jumlah desa dan penderita terus meningkat, sehingga perlu upaya baru untuk mengatasi penyebaran rabies lebih meluas, karena Bali sebagai sektor pariwisata dunia akan berakibat buruk pada pencitraan pariwisata Indonesia.
Upaya yang perlu digagas adalah dengan mengembangkan model pemberantasan Rabies berbasis desa Adat. Desa adat di Bali memiliki infrastruktur adat, yang terdiri dari elemen adat, aparat adat. Struktur desa adat di Bali dapat dijelaskan sebagai berikut. Pertama, dari urutan, desa adat posisinya diatas banjar. Kekuasaan desa adat saat ini masih terbatas masalah kultural dan religi. Bali memiliki tatanan dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam hal permukiman. Tidak hanya bentuk bangunannya saja yang khas, tetapi demikian pula halnya dengan pola desanya. Hampir semua desa memiliki pola yang jelas. Kejelasan pola yang dapat dilihat secara fisik adalah adanya batas-batas desa yang berupa elemen alami, serta memiliki kahyangan tiga/kahyangan desa di masing-masing kesatuan permukiman (desa).
Namun, demikian kekuatan desa adat di Bali  mampu mengeleminir segala sesuatu yang terjadi desa Adat, selama ini peran desa adat masih terpinggirkan dalam mengatasi penyakit rabies. Oleh karena itu, perlu dilakukan penerapan model pemberantasan rabies  berbasis desa adat di Bali, sehingga cita-cita membuat Bali bebas Rabies tahun 2012 bisa terwujud
Di desa Sangsit  merupakan masyarakat komunitas yang memiliki jumlah anjing yang banyak rata-rata tiap KK memiliki  1 ekor anjing, sehingga jumlah anjing sekitar 3000- ekor anjing, belum termasuk anjing yang diliarkan oleh pemiliknya.
Berbagai upaya upaya yang dilakukan dalam pencegahan rabies penyiapan SDM terlatih petugas kesehatan seluruh kabupaten kota, dan termasuk ke Desa Sangsit. Pelatihan penyuntikan vaksin yang efektif dan penyiapan sarana serta prasarana kesehatan. Namun kewaspadaan masyarakat Sangsit belum banyak  Nampak nyata, hal ini terbukti bahwa  masih  banyak anjing belum diikat dengan kalung identitas  sudah divaksin. Artinya penduduk  sebagian  belum sadar terhadap ancaman rabies.
Selain itu eliminasi anjing liar di Sangsit dan  vaksinasi terhadap anjing peliharaan pun merupakan salah satu cara  yang belum efektif untuk menanggulangi rabies di Desa Sangsit.  Hingga tahun 2010 ini Pemprov Bali telah memvaksin 360.000 ekor anjing dari jumlah populasi yang diperkirakan mencapai 500.000. Dengan vaksinasi sebanyak 72 persen anjing ini 2,8 juta warga dari 4 juta warga Bali terlindungi. Vaksinasi anjing terus dilakukan di Bali, termasuk di Sangsit  hingga target Bali bebas rabies pada 2012 tercapai. Dalam program penanggulangan ini tentu dibutuhkan dana yang tidak sedikit. Sejauh ini Pemprov Bali telah menghabiskan dana sebesar Rp 38,4 miliar dan pemerintah pusat akan segera menggelontorkan dana Rp 15 miliar untuk mensukseskan program ini.
Tim penyusun proposal IbM menemukan bahwa warga di desa Sangsit Tindaka  belum mengetahui cara pencegahan  secara sistematis bila terjadi gigitan anjing maupun menghindari terjadinya gigitan anjing. Warga tidak memahami perawatan luka  akibat gigitan. Setelah gigit warga Desa sangsit juga masih menganggap tidak berbahaya sehingga tidak dibawa ke puskesmas, atau kedokter terdekat.
Warga desa Sangsit belum sepenuhnya mengetahui tentang kebijakan pemerintah tentang penangan penyakit rabies secara terintegrasi dan pengendalian terpadu serta pembebasan rabies secara bertahap. Warga Desa Sangsit saat ini belum mengetahui  adanya tim koordinasi rabies di tingkat daerah,  belum tahu ada rabies center di rumah sakit daerah dan puskesmas untuk mencegah rabies pada manusia. Masyarakat Sangsit tidk sepuhnya mendukung kegiatan vaksinasi, eliminasi, dan karantina hewan. 
Oleh karena itu, upaya terpadu harus lebih banyak ditempuh memberikan informasi tentang ancaman dan penanggulangan penyakit rabies di Desa Sangsit sebagai sebuah model pengabdian integrasi antara Pergutuan Tinggi dengan masyarakat desa Sangsit dengan menonjolkan nilai-nilai Desa Adat yang berlaku di Desa sangsit Kecamatan Sawan Kabupaten Buleleng. sehingga lebih tercipta masyarakat harmoni dan damai.
 

Tabel 1 Permasalahan, akar masalah dan solusi alternatif

Permasalahan
Akar masalah
Pendekatan pemecahan masalah (solusi)
Warga  desa Sangsit kurang antisipatif tentang  cara pencegahan  penyebaran rabies  
Warga kurang tahu penyakit Rabies
Workshop cara-cara pencegahan Rabies  

Warga tidak memahami perawatan luka  akibat gigitan
Warga kurang tahu dan kurang terampil mengatasi gigitan anjing.
Workshop perawatan luka akibat gigita anjing/kucing.
Setelah gigit warga Desa sangsit juga masih menganggap tidak berbahaya sehingga tidak dibawa ke puskesmas, atau ke dokter terdekat.
Pemikiran warga kurang memahami dampak dari gigitan anjing rabies.
Workshop pencegahan rabies akibat gigita anjing/kucing.
Warga desa Sangsit kurang mendukung  kebijakan pemerintah tentang penangan penyakit rabies secara terintegrasi dan pengendalian terpadu.
Warga kurang memahami kebijakan pemerintah.
Ceramah tentang kebijakan pemerintah  terhadap penangan rabies.
Masyarakat Sangsit kurang berpartisipasi terhadap  kegiatan vaksinasi, eliminasi, dan karantina hewan.
Warga masih banyak yang percaya bahwa njing Bali kebal terhadap rabies.
1.   Workshop tentang  kegiatan vasinasi
2.   Pengadaan vaksinasi massal.

Dibimbing oleh: Dr. I Nyoman Tika, M.Si