Rabu, 04 Januari 2012

TUKAD BATUAGUNG dan TUKAD BILUK POH



Teringat masa kecilku, waktu itu aku masih usia sekolah dasar. Banyak cerita dan kenangan yang masih terngiang dan teringat sampai saat ini. Kadangkala ingin rasanya mengulang kenangan tersebut lagi, dan lagi. Namun apa yang menjadi keinginan terkadang tidak bisa terwujud, karena kenangan itu banyak yang sudah berubah, total. Jauh berbeda dengan waktu yang lampau, saat uang lalu.
Salah satunya adalah tukad Batuagung. Tukad (sungai) ini berada di kawasan pinggir kota Negara. Tukad ini dulunya terkenal karena banyaknya batu besar sepanjang aliran sungainya. Hingga disebut dengan batu agung (batu besar). Banyaknya batu besar tersebut berdampak pada indahnya aliran sungai, air yang meliuk diantara batuan besar, merupakan sebuah kenangan tersendiri bagi saya. Batu-batu besar tersebut juga menyebabkan adanya saringan alami bagi air sungai itu sendiri. Saya masih ingat dulu, aliran sungai ini selalu besar (suluk) dan bening. Terkecuali pada saat hujan deras, karena airnya meluap dan berwarna coklat.
Dulu, minimal sekali dalam seminggu kami sekeluarga pergi ke tukad ini, bapak dan ibu naik motor, sedangkan saya dengan semangatnya mengayuh sepeda federal (goes). Biasanya sore hari, sebelum sampai di lokasi, ibu pasti membeli nasi campur babi, yang dimakan bersama sambil mandi. Sungguh nikmat...
Namun sekarang, terakhir saya ke kota negara, entah dari mana datangnya keinginan untuk mandi di sana lagi. Untuk itu, saya pacu motor ke lokasi tempat saya bisa bernostalgila lagi. Sayangnya, harapan untuk melihat batu-batu dan aliran air yang bening itu tampaknya tak tersampaikan. Tempat yang dulu memiliki kenangan itu kini telah berubah drastis. Sepanjang pinggiran sungai kini telah berganti dengan tembok dari susunan batu dalam jaring kawat. Sungguh ironis, tak ada lagi pemandangan indah itu.

Walaupun demikian, tidak menyurutkan keinginan saya untuk mandi dan merasakan dinginnya aliran air yang berasal dari pegunungan daerah gelar. Batu-batu besar itu kini telah berganti dengan batu-batu kecil yang banyak didominasi dengan pasir. Hal ini menyebabkan tidak nyamannya ketika duduk di aliran sungai. 

Memang tidak dapat dipungkiri bahwa tukad batuagung ini sering meluap ketika hujan. Banyak korban jiwa, baik manusia maupun ternak yang terseret derasnya arus sungai ini. Tak terhitung pula banyaknya rumah yang hancur. Mungkin itulah penyebab dibuatnya tanggul. Dan mau tidak mau, batu-batu penghias aliran sungai menjadi korbannya. Mereka dengan kejamnya akan dipecah, dibelah dan dimasukkan ke dalam jaring kawat baja, dan menjadi penghias pinggiran sungai. Bukan ditengah sungai lagi. Sungguh ironis.
Hal yang serupa juga terjadi pada tukad Biluk Poh. Salah satu sungai yang berada di dekat desa Tegalcangkring. Tukad ini merupakan aliran dari air terjun mesean, yang mungkin merupakan air terjun tertinggi di pulau bali. Tidak beda jauh dengan tukad Batu Agung, bebatuan di tukad Biluk Poh juga menghilang. Yang ada kini hanya batu-batu kecil, akibat banyaknya batu yang lebih besar diambil untuk pembangunan. Ya, bedanya dengan tukad Batu Agung, bebatuan di Biluk Poh banyak digunakan sebagai bahan bangunan. Mungkin karena telah mendapat ijin untuk galian C, kala itu. Sehingga banyak penambang batu dan pasir yang mencoba mencari peruntungan di sepanjang aliran tukad ini. Pengerukan tersebut menyebabkan adanay pendangkalan sungai, dan alhasil, ketika hujan lebat tiba, terjadi penggerusan tebing sungai, sehingga sungai semakin melebar. Tidak jarang sawah yang berada di sepanjang aliran sungai ikut terendam, karena tanggul sungai tidak cukup tinggi menahan air hujan akibat adanya pendangkalan pada badan sungai.

Andai saja, dulu kita tidak begitu serakah mencari nafkah, tentunya alam ini masih tetap terjaga keasriannya. Dan saya percaya, ketika kita menjaga alam dengan baik, maka alam akan berterima kasih dengan menjaga kita 1000 kali lipat lebih baik. Bukan hanya seorang, namun seluruh orang yang melindunginya. Om Awignam Astu....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mohon dukungan dan Komentarnya...