Rabu, 25 Agustus 2010

ASPEK KESTABILAN TERMODINAMIK


Berikut saya postkan materi kestabilan termodinamik. Seperti biasa, banyak yang tidak sesuai aslinya. Gambarnya juga tidak muncul (ribet ngisinya). Untuk itu, bagi teman2 yang mau lengkapnya, silahkan download disini.
Kestabilan Termodinamik
Besaran termodinamika yang sering diaplikasikan dalam menyatakan arah proses dan kestabilan kimia adalah Energi Bebas Gibbs. Apabila perubahan energy bebas Gibbs berharga negatif, maka proses akan berlangsung spontan, tetapi bila harganya positif, maka proses akan berlangsung bila adanya energi tambahan dari luar sistem.  Dengan demikian, perubahan energi bebas negatif adalah daya dorong intrinsic dari proses. Proses akan di dorong menuju ke energi bebas Gibbs yang lebih rendah (minimum). Dengan kata lain, system lebih cenderung berada pada keadaan dengan energi bebas Gibbs minimum. Keadaan inilah yang disebut stabil secara termodinamik. Semua sistem ingin mencapai keadaan stabil secara termodinamik, tetapi laju prosesnya berbeda-beda tidak bergantung pada besarnya energi bebas Gibbs.
Fakta yang berhubungan dengan kestabilan termodinamik adalah pada suhu kamar air berwujud cair, pada suhu rendah air berwujud padat, dan pada suhu tinggi air berwujud gas. Demikian pula pada tekanan tinggi, zat berkecenderungan berwujud padat sedangkan pada suhu rendah cenderung berwujud gas. Fakta ini dapat dijelaskan secara termodinamik dengan menggunakan besaran ∆G, karena kajiannya tidak perlu mempertimbangkan perubahan yang terjadi pada lingkungan (hanya melihat sistem).

Keadaan Transisi
Pada titik pertemuan dari grafik satu wujud (tepatnya satu fasa) adalah keadaan transisi fasa. Pada keadaan ini terjadi keseimbangan dua fasa. Pada keadaan transisi fasa, berlaku persamaan Clapryon untuk melihat hubungan antara perubahan tekanan transisi terhadap temperatur transisi. Persamaan Claperyon sebenarnya dapat diturunkan dari relasi Maxwell. Berdasarkan persamaan diferensial eksak dari persamaan energi bebas Helmholts, dapat dibuat relasi Maxwell, sebagai berikut.
dA = -SdT – PdV
Karena pada tekanan tetap dS = DH/T, maka (dP/dT)v = (DH/T dP)P,T sehingga dP/dT = DH/T dP
dV adalah selisih volume molar ke dua fasa yang dikenal sebagai peersamaan Claperyon yang digunakan untuk menghitung temperatur transisi fasa pada berbagai tekanan.
Setiap keadaa fasa mempunyai karakter hubungan energi bebas gibbs dengan temperatur atau tekanan yang tertentu, sehingga setiap fasa tersebut akan stabil pada temperatur dan tekana  tertentu. SiO2 adalah salah satu zat yang dapat memiliki beberapa fasa padat (polimorf). Paada tekanan 1 atm, keadaan stabil dari masing-masing fasa padat SiO2 adalah sebagai berikut.
a-Kuarsa « b-kuarsa « b-tridimit « b-Kristobalt « SiO2 (cair)

Ukuran Kestabilan
Konstanta Kesetimbangan sebagai Ukuran Kestabilan
Suatu zat dikatakan stabil bila stuktur molekulnya mempunyai ikatan yang kuat, untuk memutuskan ikatan atau mengubah zat tersebut menjadi zat yang lain dibutuhkan energi. Menurut termodinamika, parameter atau besaran yang berhubungan dengan kestabilan adalah energi bebas Gibbs (G). Semakin rendah energi bebas zat (sistem) semakin stabil zat tersebut secara termodinamika. Kestabilan zat tidak hanya ditinjau dari fasa-fasa yang mungkin dimiliki, tetapi kestabilan yang dilihat dari kemungkinan zat untuk berubah menjadi zat lain atau bereaksi kimia.
Zat A dan B mempunyai energi bebas Gibbs seperti pada diagram diatas. Pada T dan P tertentu, B lebih stabil dari A. apabila zat A secara kimia bisa berubah menjadi zat B, maka  tentunya perubahan energi bebas (DG) dari A ke B adalah negatif. Dikatakan terjadi penurunan energi bebas Gibbs, DG = (-), atau reaksi berlangsung secara spontan.
dG = SdT + VdP
dG = VdP (proses isotermal)
Untuk sistem gas ideal, V = nRT/P, maka
dG = nRT ln P
G = nG° + nRT ln P/P°
Untuk sistem larutan ideal, dengan menggunakan Hukum Raoult, maka energi bebas Gibbs-nya adalah:
G = nG° – nRT ln x
Untuk sistem tak ideal (baik larutan maupun gas)
G = nG° – nRT ln a        dimana a merupakan aktivitas
Persamaan di atas mentiratkan bahwa setiap zat mempunyai energi bebas standar, G° (P=1 atm, aktivitas = 1) dan energi bebas zat tergantung pada temperatur dan aktivitas (a), tekanan, atau fraksi mol (x). Bila suatu zat mengalami proses (reaksi kimia), maka perubahan energi bebas proses bisa dihitung.

∆G = GB + GA (hukum Hess)
bGB – bRT ln aB = (aGA0 – aRT ln aA)
∆G = ∆G0 + RT ln Q
Q adalah fungsi reaksi.
Bila DG = 0, maka proses berkestimbangan sehingga Q = Ka (konstanta keseimbangan termodinamika)
DG° = - RT ln Ka
Ka = aBb . aBa, dimana aA adalah aktivitas A dan a adalah koefisien zat A dalam reaksi. Ada dua keadaan standar untuk aktivitas, yaitu standar zat murni dan standar larutan encer untuk zat terlarut. Standar zat murni menetapkan bahwa zat murni mempunyai aktivitas sama dengan satu, sedangkan standar larutan encer menetapkan bahwa zat terlarut dengan konsentrasi sangat encer (mendekati nol) mempunyai koefisien aktivitas sama dengan satu. Aktivitas tidak sama dengan konsentrasi. Hubungan aktivitas dengan koefisien konsentrasi adalah sebagai berikut.
a = f.c atau a = g m
f dan g adalah koefisien aktivitas, sedangkan c dan m masing-masing adalah konsentrasi molar dan molal. Ka = Kc bila konsentrasi zat yang encer.
Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa konstanta kesetimbangan adalah bentuk lain dari menyatakan kestabilan termodinamika, karena Ka berhubungan dengan perubahan energi bebas Gibbs.

Keadaan Setimbang adalah Keadaan yang Paling Stabil
Jika zat A bisa menjadi zat B seperti pada kasus yang telah diuraikan diatas dimana energi bebas Gibbs B lebih rendah dari energi bebas Gibbs A. berdasarkan hal tersebut dapat dinyatakan bahwa B lebih stabil dari a dan A akan dapat berubah secara spontan menjadi B. Namun tidak semua A akan berubah menjadi B karena daya dorong proses tidak akan sekuat itu melainkan akan didorong sampai ∆G = 0 (reaksi kesetimbangan). Keadaan setimbang adalah keadaan yang paling stabil.
Secara termodinamika fenomena di atas dapat dijelaskan dengan mengkaji energy bebas sistem pada jumlah mol atau fraksi mol A dan B yang berbeda-beda seperti di bawah ini.
aA  ---->  bB
Pada tekanan 1 atm dan temperature 25oC (keadaan standar), G0A=100 kj/mol dan G0B = 100 kj/mol.
Bila system hanya terdiri dari zat murni A, maka Gsistem = 100 kJ dan bila hanya terdiri dari zat B saja maka Gsistem = 400 kJ. Bila dalam sistem terdapat campuran A dan B yang masing-masing fraksi molnya 0,01 dan 0,09 dengan mol total = 1.
Untuk fraksi mol A = 0,01 (mol A = 0,01 dan mol B = 0,99)
GA = nA x G0A + nA RT ln 0,01
GA = (0,01) x 100000 + (0,01) x 2477,57(-2,302)
GA = 885,90 J
GB = nB x G0B + nB RT ln 0,99
GA = (0,99) x 100000 + (0,99) x 2477,57(-0,10536)
GA = 395975,3 J
Sehingga,
            Gsistem = GA + GB
                                = 396861 J
                        = 399,8613 kJ
Untuk fraksi mol A = 0,99
GA = nA x G0A + nA RT ln 0,99
GA = (0,99) x 100000 + (0,99) x 2477,57(-2,302)
GA = 87704,46 J
GB = nB x G0B + nB RT ln 0,01
GA = (0,01) x 100000 + (0,01) x 2477,57(-0,10536)
GA = 3999,751 J
Sehingga,
            Gsistem = GA + GB
                                = 91704,21 J
                        = 91,70421 kJ

Dari contoh perhitungan tersebut terlihat bahwa keadaan system yang terdirii dari campuran A dan B dengan fraksi mol A = 0,99 mempunyai energi bebas Gibbs lebih rendah dari system yang terdiri dari zat A saja.

Pengaruh Temperatur pada Konstanta Kesetimbangan
Harga tetapan kesetimbangan (K) tergantung pada temperatur. Harga K pada temperatur yang berbeda dapat dihitung sebagai berikut.
∆G0T = -R ln K
d(∆G0T) dT = - R d ln K/dT
∆G0 = ∆H0 - T∆S0
∆G0T = ∆H0T - ∆S0
Untuk range temperature percobaan yang kecil (sempit), ∆H0 & ∆S0 bisa dianggap tidak fungsi suhu. Sehingga,
   d(∆G0T) dT = - ∆H0/T2
   dln K = (∆H0 + RT2)dT
   ln K = -∆H0 + RT2 + C
atau
            ln K2/K1 = -∆H0/R (1/T2 – 1/T1)

Potensial Sel sebagai Ukuran Kestabilan
Perubahan energi bebas DG, dimaknai sebagai energi yang berguna maksimum. Energi listrik adalah energi berguna yang dihasilkan oleh reaksi redoks. Dengan demikian, besarnya perubahan energi bebas Gibbs suatu reaksi redoks dapat dihitung dari energi listrik yang dihasilkan.
Besarnya energi listrik = muatan (Coloumb) x voltase (Volt). Sehingga
DG = -QE
DG = - nFE
Dimana, n adalah jumlah elektron, F adalah bilangan Faraday yang besarnya sama dengan muatan listrik untuk 1 mol elektron, dan E adalah potemsial sel redoks. Dengan demikian, potensial redoks, E juga dapat dihunakan sebagai parameter untuk menyatakan kestabilan termodinamika. Reaksi spontan bila perubahan energi bebas Gibbs negatif atau berdasarkan persamaan di atas, E sel berharga positif. Dengan kata lain, bila suatu reaksi redoks potensial selnya berharga positif maka produk lebih stabil secara termodinamika daripada pereaksi. Semakin besar harga potensial sel, semakin stabil produk terhadap reaksi.

Potensial Tunggal Elektroda

Pengaruh Aktivitas dan Temperatur terhadap Potensial Redoks

Kecenderungan Periodik Potensial Tunggal Elektroda
Harga potensial oksidasi standar dari spesi redoks dalam satu golongan atau dalam satu periode terlihat kecenderungan harganya bersifat periodik terutama pada golongan alkali tanah dan golongan IIIA, namum peridisasinya tidak sama. Hal tersebut dapat dijelaskan dengan melakukan kajian secara termodinamika dari tahapan proses yang terjadi.
Reaksi kimia yang berhubungan dengan reaksi oksidasi di suatu elektroda adalah :
                                    M(s) ----->   Mn+(aq) + ne            
Persamaan reaksi di atas menyatakan bahwa reaksi oksidasi di suatu elektroda tidak sama dengan reaksi ionisasi. Secara tahapan proses yang terjadi dapat digambarkan sebagai berikut.

(gambar ga kelihatan, download aja aslinya. Linknya ada di atas)


Keterangan :
∆H = Perubahan entalpi (kalor) reaksi oksidasi di elektroda
S = kalor sublimasi
I = kalor ionisasi
H = kalor hidrasi
            Dari diagram tahapan proses di atas terlihat bahwa reaksi oksidasi di elektroda terdiri dari reaksi sublimasi, ionisasi, dan hidrasi. Menurut hokum Hess, kalor reaksi oksidasi di elektroda adalah ∆H = S+ I + H. Dengan cara yang mirip, perubahan entropi reaksi(∆S), dapat ditentukan dari daur di atas. Karena potensial elektroda ditentukan dari reaksi redoks yang terjadi dengan elektroda pembanding standar Hidrogen, Maka secara teoritik potensial oksidasi standar sangat bias dihitung tidak hanya berdasarkan reaksi tunggal elektroda.  


Stabilitas Keadaan Oksidasi Unsur dan Diagram Latimer

Kestabilan Spesi Anorganik dalam Air
Sebagaian besar proses kimia di alam berlangsung dalam medium air, walaupun sebenarnya proses kimia dapat berlangsung dalam medium bukan air. Kejian teoritik tentang kestabilan zat dalam air dapat diaplikasikan dalam menjelaskan kestabilan zat dalam medium bukan air.
Air dapat mengalami reaksi oksidasi dan reaksi oksidasi. Besarnya potensial elektroda tergantung pada konsentrasi ion H+ atau pH. Reaksi reduksi air: 2H2O + 2e ® H2 + 2OH-
Pada pH 0, E°red = 0 V
Pada pH 7, E°red = -0,41 V
Pada pH 14, E°red = -0,83 V
Bila pad pH = 0 suatu spesi mempunyai potensial reduksi standar E°red < 0 V, atau pada pH = 7 suatu spesi mempunyai E°red < -0,41 V, atau pada pH = 14 suatu spesi mempunyai E°red < -0,83, maka spesi-spesi tersebut dapat mereduksi air (terjadi reaksi reduksi). Dengan kata lain, spesi tersebut tidak stabil dalam air. Reaksi oksidasi air: H2O ® ½ O2 + 2H+ + 2e
Pada pH = 0, E°red = 1,23 V
Pada pH = 14, E°red = 0,4 V
Bila pada pH = 0 suatu zat mempunyai E°red > 1,23 atau pada pH = 14 suatu zat mempunyai E°red>0,4, maka ais akan teroksidasi atau spesi tersebut tak stabil dalam air.


Kamis, 12 Agustus 2010

SK Bersama Tiga Menteri Tentang Resimen Mahasiswa Pendidikan Dasar, Suskalak Dan Suskapin Menjadi Tanggung Jawab Menhankam

Jakarta, 31 Desember (Suara Pembaharuan)
Keputusan bersama yang baru tentang Pembinaan dan Penggunaan Resimen
Mahasiswa (Menwa) Dalam Bela Negara, Rabu (28/12) di kantor Polkam
Jakarta ditanda-tangani oleh tiga menteri, yaitu Menhankaam Edi Sudradjat,
Mendikbud Dr Ing Wardiman Djojonegoro dan Mendagri Yogie S Memed, dengan
disaksikan Menko Polkam Soesilo Soedarman.

Penandatanganan naskah yang masuk dalam rangkaian Rakor Paripurna
Bidang Polkam Tingkat Menteri tersebut, dihadiri juga oleh Menko Kesra
Ir Anwar Anas, Menpora Hayono Isman dan paraa menteri jajaran Polkam.

Dengan adanya keputusan tersebut, masalah tanggung-jawab pembinaan Menwa
kini lebih tegas lagi. Menwa dinyatakan Ratih (Rakyat Terlatih), yang
berarti tanggung jawab pembinannya adalah Menhankam. Sehingga pendidikan
dasar (Diksar), kursus kader pelaksana (Suskalak) dan kursus kader
kepemimpinannya (Suskapin) juga menjadi tanggung jawab Menhankam.

Sedangkan, pembinaan satuan Menwa dalam hubungan dengan kegiatan perguruan
tinggi menjadi tanggung jawaab Mendikbud. Untuk pembinaan satuan Menwa
dalam hubungan unit kegiatan mahasiswa (UKM) khusus di perguruan tinggi,
menjadi tanggung jawab pimpinan PT.

Sementara, yang menjadi tanggung jawab Mendagri adalah pembinaan teknis
administratif Menwa dalam rangka pelaksanaan perlindungan massa (Linmas),
serta pelaksanaan fungsi ketertiban umum (Tibum) dan perlindungan rakyat
(Linra).

Dalam pengorganisasiannya, di dati I, hanya akan ada satu Resimen Mahasiswa,
dan di tiap PT. Juga hanya ada satu satuan Menwaa (Satmenwa). Jika, di
dati II ada lebih dari dua satmenwa, maka dapat dibentuk satu sub Resimen
Mahasiswa.

Komanda Menwa di Dati I, akan dijabat oleh Aster/Wakil Aster Kasdam atau
Korem yang diangkat oleh Pangdam. Sedangkan Wakil Komandan Menwa dijabat
oleh dosen dari PT, yang juga di angkat oleh Pangdam. Dan untuk Kastaf
Menwa dipilih dari salah seorang anggota Menwa yang sekurang-kurangnya
menduduki Semester VI, yang diangkat oleh Komandan Menwa, atas persetujuan
pimpinan PT.

Sedang dalam penggunannya, Menwa sebagai Ratih untuk fungsi Wanra digunakan
Pangdam atau Danrem setelah berkoordinasi dengan pimpinan PT Dan untuk
fungsi Waarna digunakan Pangdam ataau Danrem setelah berkoordinasi dengan
pimpinan PT Dan untuk fungsi keamanan rakyat (Kamra) digunakan kepolisian
setelah persetujuan Pangdam/Danrem.

Menwa sebagai Tibum, Linra dan Linmas digunakan Gubernur, setelah
persetujuan Pangdam/Danrem dan pimpinan PT. Sedangkan dalam hubungan kegiatan
di luar, PT dapat membentuk satuan gabungan dengan sebutan batalyon atau
kompi Menwa.

Penyempurnaan
Penyempurnaan itu dilakukan dalam rangka penyesuaian dengan peraturan
perundang-undangan yang baru, yang berkaitan dengan pertahanan keamanan negara
(UU Nomor 20 Tahun 1982), sistem pendidikan nasional (UU Nomor 2 Tahun 1989)
koordinasi kegiatan Instansi Vertikal di Daerah (PP 6 Tahun 1989),
penyelenggaraan pendidikan tinggi (PP Nomor 30 Tahun 1990), peran serta
masyarakat dalam pendidikan nasional (PP 39 Tahun 1992), penetapan Kodam
sebagai penyelenggara tugas dan fungsi Dephankam di Daerah (Kep Menhankam
No:Kep/012/VII/1988), dan ketentuan mengenai pedoman umum Organisasi
Mahasiswa di Perguruan Tinggi (Kep Mendikbud No. 0457/01/1990).

Tiga Tujuan
Dalam keputusan bersama itu antara lain ditetapkan, tiga tujuan Menwa yakni
sebagai wadah penyaluran potensi mahasiswa dalam rangka mewujudkan hak
dan kewajiban warga negara dalam bela negara. Juga mempersiapkan mahasiswa
yang memiliki sikap disiplin, pengetahuan, fisik dan mental agar mampu
melaksanakan tugas bela negara serta menanamkan dasar-dasar kepemimpinan
dengan tetap mengacu pada tujuan pendidikan nasional, serta mempersiapkan
potensi mahasiswa sebagai bagian dari potensi rakyat dalam rangka Sishankamrata.

Sesuai pasal 39 dalam keputusan baru tersebut, seragam Menwa terdiri atas
pakaian dinas harian (PDH) berwarna khaki dan pakaian dinas lapangan (PDL)
di mana PDL I dan II berwarna hijau dengan pola yang sama dengan PDL ABRI.
PDI I dengan tutup kepala berupa baret berwarna ungu, dan PDL II dengan
tutup kepala berupa topi lapangan berwarna hijau.

Kamis, 05 Agustus 2010

GENETIKA

Hai Teman-teman... kembali lagi dengan elang. Kali ini saya upload makalah tentang genetika. Bagi teman-teman yang mau baca selengkapnya, bisa memperoleh file yang lebih lengkap dengan download disini. Semoga bermanfaat.........


Kromosom merupakan benang-benang pembawa sifat. Di dalam sel prokariotik, kromosom terletak di daerah inti terbentuk sirkuler. Di dalam sel eukariotik kromosom terbentuk benang linear yang terdapat di dalam inti. Kromosom tersusun atas protein, DNA dan RNA. Jumlah kromosom tidak sama, tergantung pada jenisnya. Bentuk kromosom juga tidak sama tergantung letak sentromer, sehingga ada yang terbantuk seperti huruf I, L atau V. di dalam kromosom terdapat gen, yaitu sepenggal DNA yang berfungsi mengontrol sintesis polipeptida. Dengan demikian gen juga berfungsi mengontrol sifat-sifat yang diwariskan dari induk kepada keturunannya. Karena kromosom berpasangan maka gen juga berpasangan pada kromosom homolog dikenal sebagai alel.

1. Kromosom
Kromosom terdapat di dalam nucleus dan hanya dapat diamati dengan mikroskop pada saat sel sedang membelah secara mitosis ataupun meiosis. Di dalam inti terdapat benang-benang yang menyerap zat warna itu disebut kromatin. Katika sel membelah yaitu pada profase, benang-benang kromatin menebal, memendek dan disebut kromosom. Benang kromatin disebut benang fibril yang terdiri atas DNA, RNA hasil transkripsi dan protein. DNA merupakan molekul hidup dan dapat mengadakan replikasi karena mendukung molekul DNA, kromosom pun dapat menggandakan diri. RNA yang menyusun kromosom merupakan RNA hasil transkipsi DNA. Biasanya RNA yang terbantuk akan segara dikeluarkan dari nucleus ke sitoplasma. Protein penyusun kromosom ada dua macam yaitu protein histon yang bersifat basa dan nonhiston bersifat asam. Protein ini berfungsi untuk mempertahankan keutuhan kromatin dan berperan sebagai enzim pengganda DNA dan pengoki DNA menjadi RNA.

a. Jumlah Kromosom
Di dalam sel tubuh, biasanya kromosom berpasangan atau diploid. Sedangkan pada sel gamet biasanya tidak berpasangan (tunggal) atau haploid. Jika terjadi pembuahan antara sperma dan ovum maka akan terbentuk zigot. Jumlah pasangan kromosom dalam setiap jenis mahluk hidup tidak sama begitu juga dengan ukuran kromosom pada setiap spesies juga berbeda.

b. Genom Kromosom
Kromosom biasanya diberi nomer menurut panjang pendeknya. Kromosom manusia diberi nomor 1 sampai dengan 23. perangkat kromosom nomor 1 sampai dengan 23 disebut genom kromosom. Istilah genom ini juga digunakan untuk merujuk DNA secara keseluruhan di dalam sel yang disebut sebagai genom DNA.

c. Bentuk kromosom
Satu benang kromosom terdiri dari lengan kromosom dan sentromer atau kinetokori. Sentromer berbentuk bulat dan tidak mengandung DNA. Berdasarkan letak sentromer, kromosom dibedakan menjadi :

1. Metasentrik : sentromer terletak di tengah, membagi lengan kromosom menjadi dua lengan yang hampir sama panjang.
2. Submetasentrik : sentromer membagi lengan kromosom menjadi dua lengan yang tidak sama panjang.
3. Akrosentrik : sentromer terletak didekat ujung kromosom.
4. Telosentrik : sentromer terletak di ujung kromosom.
Letak sentomer yang bermacam-macam menyebabkan bentuk kromosom bermacam-macam pula :
- Kromosom menyerupai huruf I. Bentuk kromosom demikian hanya memiliki satu lengan dan sentromer terletak di ujung kromosom.
- Kromosom menyerupai L. kromosom ini lengan salah satunya lebih panjang dari yang lainya.
- Kromosom menyerupai huruf V. kromosom ini mempunyai lengan sama panjang dengan sentromer di tengah.
Fungsi sentromer adalah untuk mengerakkan kromosom dari daerah ekuator ke kutub masing-masing pada waktu mitosis.

2. Gen dan Alel
Gen terletak pada lokus (lokasi) tertentu pada kromosom. Gen-gen yang ada dikromosom tidak memiliki batasan-batasan yang jelas, sehingga tidak dapat ditentukan batas gen yang satu dan yang lainnya. Setiap gen memiliki fungsi tertentu, ada gen penentu sifat warna bunga, ada gen penentu bentuk biji dan ada gen penentu warna kulit. Kromosom di dalam sel tubuh biasanya berpasangan. Sepasang kromosom merupakan homolog sesamanya. Artinya mereka memiliki bentuk dan lokus gen yang sama. Sepasang gen yang berbeda pada lokus yang sama pada kromosom yang homolog disebut alel. Alel dapat memiliki fungsi yang sama, saling mendukung atau berlawanan. Misalnya satu gen berfungsi menentukan warna merah pada bunga. Ada gen dominan yang berpasangan gen resesif sehingga yang tampak adalah sifat yang dominan. Alel yang mempunyai 2 gen untuk sifat berbeda disebut bersifat heterozigot.

3. DNA
DNA terdiri dari utas benang polinukleotida yang saling terpilin. Seutas polinukleotida tersusun atas rangkaian nukleotida. Setiap nukleotida tersusun atas :
1. Gugus gula deoksiribosa (gula pentosa yang kehilangan satu atom oksigen).
2. Gugusan asam fosfat yang terkait pada atom C nomor 5 dari gula.
3. Gugusan basa nitrogen yang terkait pada atom C pada nomer 1 gula.

Basa nitrogen penyusun DNA terdiri dari basa purin, yaitu adenine (A) dan guanine (G), serta basa pirimidin yaitu sitosin atau cytosine (C) dan timin (T) ikatan gula-gula disebut nukleosida. Ikatan asam fosfat-gula-basa disebut sebagai deoksiribonukleotida atau sering disebut nukleotida. Ada 4 macam deoksiribonukletida yaitu adenosine, deoksiribonukleotida, guanosin deoksiribonukleotida, sitidin deoksiribonukleotida, dan timidin deoksiribonukleotida. Jika nukleotida-nukleotida itu membentuk rangkaian, maka disebut polinukleotida. Contohnya DNA terbantuk dari dua utas polinukleotida yang salin terpilin. Transkripsi DNA membentuk RNA. Selain mampu melakukan replikasi semikonseruatif, DNA juga mampu mengkopi dirinya menghasilkan RNA. Prosesnya disebut transkripsi DNA. Caranya, dua utas DNA terpisah. Salah satu polinukleotida berfungsi sebagai pencetak atau sense, yang lain gen atau antisense.

4. RNA
Benang Rna merupakan benag tunggal dan tersusun dari gula ribose, fosfat, dan basa. Basa purin RNA terdiri dari adenine (A) dan guanine (G), sedangkan basa pirimidin terdiri dari sitosin (C) dan urasil (U). ada tiga macam RNA yaitu RNA duta (RNA-d), RNA ribosom (RNA-r) dan RNA transport (RNA-t) semua RNA tersebut dihasilkan oleh DNA melalui proses transkripsi.

a. RNA-d merupakan seutas RNA yang memanjang, yang berfungsi membawa kode-kode genetika atau kodon. Kodon adalah 3 urutan basa yang digunakan untuk memanggil asam amino tertentu.
b. RNA-r adalah RNA yang menyusun ribosom bentuk RNA ini tidak jelas. Ribosom adalah organel tempat sintesis protein berlangsung.
c. RNA-t adalah RNA yang berfungsi membawa (mengikat) asam amino untuk disintesis menjadi polipeptida. Bentuk RNA-t ini seperti daun semanggi, karena ada basa yang komplemen saling berkaitan sehingga bentuk RNA melipat-lipat.

5. Sintesis Polipeptida
Bahan baku untuk sintesis polipeptida atau protein adalah asam amino. Ada 20 macam asam amino penting yang dapat dirangkai membentuk polipeptida. Kedua puluh macam asam amino itu dapat disusun menjadi jutaan macam kemungkinan polipeptida dengan berbagai macam urat asam amino. Jadi macam molekul polipeptida tergantung pada asam amino penyusun dan panjang pendeknya rantai polipeptida.

a. Kode genetika terdiri dari 3 urutan basa kode genetika merupakan urutan 3 basa yang terdapat disepanjang RNA-d. setiap 3 basa memiliki arti khusus sebagai sandi genetika. Urutan ketiga itu dikenal dengan triplet atau kodon. Misalnya AALI, UGA, GUC, UUA dan sebagainya mempunyai makana tersendiri.

b. Antikodon merupakan komplemen kodon pada bagian ujung RNA-t yang tanpul, terdapat urutan basa tertentu yang komplemen terhadap kodon urutan basa ini disebut antioksidan, jika kodon memiliki urutan CAU, maka anti kodon memiliki urutan GUA. Jika ada kodon ACU, GUA, CUA, dan ACA maka anti kodonnya adalah UGA, CAU, GAU, CAG, dan UGU.

c. Kodon dan macam asam amino yang dipesannya kodon yang terbaca pada RNA-d akan didatangi oleh RNA-t membawa asam amino tertentu. Misalnya kodon UUU akan menyebabkan RNA-t yang membawa phenilalanin dating artinya kodon UUU dijawab dengan asam amino.

d. Translasi merupakan penjelasan ringkas tentang proses translasi atau penerjemah kodon. Agar lebih memahami prosesnya adalah sebagai berikut :
- Mula-mula DNA di dalam nucleus melakukan transkripsi pembentuk RNA-d.
- RNA-d dikeluarkan dari nucleus dan menuju sitoplasma.
- RNA-d masuk keribosom sebagai catatan ribosom yang datang untuk membaca kodon biasanya tidak hanya satu melainkan beberapa ribosom yang dikenal sebagai polisom.
- RNA-t yang membawa antikodon UAC dan asam amino dating RNA-t masuk celah ribosom.
- Ribosom terus bergesar agar RNA-d lebih masuk guna membaca kodon 2
- Ribosom terus bergeser membaca kodon 3 demikian seterusnya proses pembacaan kode genetika berlangsung di dalam ribosom yang diterjemahkan ke dalam bentuk asam amino guna dirangkai menjadi polipeptida.

6. Gen yang Aktif dan yang Tidur.
Setiap sel pada satu tubuh memiliki gen yang sama. Hal tersebut terjadi karena sel tubuh berasal dari satu sel zigot yang mengalami pembelahan mitosis. Hal tersebut terjadi karena gen pengontrol hormone insulin di pangkreas aktif melakukan pengungkapan. Artinya gen itu aktif mengontrol sintesis polipeptida.

7. Mutasi.
DNA berperan penting dalam menentukan sifat individu. Di dalam benang DNA terkandung kehidupan. Karena itu sel harus mempertahankan agar DNA tetap stabil dan tetap berada di dalam inti. Perubahan susunan DNA disebut mutasi. Demikian juga kesalahan dalam penerjemahan kode-kode genetika merupakan suatu mutasi. Perubahan susunan DNA terjadi akibat perubahan satu basa saja pada DNA dapat mengacaukan pesan-pesan genetika, yang akan disampaikannya. Misalkan satu basa G pada gen terlepas maka akan mengubah seluruh kodon yang dibawa oleh RNA-d. peristiwa perubahan DNA ini disebut mutasi. Terjadinya mutasi dapat menyebabkan terjadinya perubahan sifat yag diwariskan secara turun-menurun. Selain karena perubahan pada DNA, mutasi dapat juga terjadi karena kesalahan penerjemahan kode-kodegenetika. Dalam peristiwa ini DNA tidak berubah tetapi RNA-t salah dalam menerjemahkan kodon. Kesalahan penerjamahan itu misalnya terjadi pada proses pembentukkan hemoglobin. Homoglabin yang normal seharusnya mengandung asam glutamate, akan tetapi karena terjadi kesalahan penerjemahan, hemoglobin itu mengandung valin atau silin sehingga menghasilkan sel sabit. Sel sabit menyebabkan kelainan yang disebut siklemia yang dapat menyebabkan anemia. Siklemia diwariskan pada keturunannyaperistiwa perubahan ini juga dikenal sebagai mutasi. Mutasi dapat disebabkan oleh factor dalam dan factor luar, factor luar misalnya sinar x, radioaktif, dan zat-zat mutagenic, yang tergolong zat mutagenic misalnya asbes dan nikotin. Factor dalam adalah kondisi dari sel itu sendiri

Anabolisme

Anabolisme adalah semua reaksi proses penyusunan yang berlangsung di dalam sel. Misalnya fotosintesis dan kemosintesis. Dalam proses anabolisme, banyak hal yang berpengaruh yang mana banyak melibatkan reaksi-reaksi kimia didalamnya.

Fotosintesis merupakan reaksi penggabungan antara karbondioksida (CO2) dan air (H2O) dengan bantuan sinar matahari. Fotosintesis umumnya terjadi pada tumbuhan yang memiliki klorofil. Proses ini dapat terjadi pada malam hari jika ada sumber cahaya.

Kemosintesis adalah reaksi penyusunan bahan organik yang dilakukan dengan energi yang diperoleh dari pemecahan senyawa kimia. Energi kimia digunakan untuk fiksasi CO2 menjadi karbohidrat. Misalnya bakteri belerang mengoksidasi H2S untuk memperoleh energi. Selanjutnya energi yang diperoleh digunakan untuk melakukan asimilasi C.

NB. Bagi teman-teman yang ingin tau reaksinya, silahkan download file aslinya disini. Ada sedikit perubahan struktur reaksi jika file doc dicopy ke blog. makanya, langsung aja download aslinya.. okeh..?!

EVOLUSI

Kalau mau download aslinya, silahkan klik disini.

A. BUKTI EVOLUSI
Pada tahun 1859, charks Darwin, seorang naturalis dari inggris, menerbitkan buku the origin of species pertama. The origin of species menyatakan bahwa semua mahluk hidup yang ada di bumi ini merupakan hasil keturunan dari moyang yang sama yang mengalami modifikasi, ini lah yang disebut dengan teori evolusi. Dengan kata lain, teori menyatakan bahwa spesies bukanlah merupakan suatu yang kekal dan tidak mengalami perubahan, melainkan berevolusi melalui proses perubahan terhadap dari spesies yang telah ada. Teori ini menyatakan bahwa semua semua spesies mempunyai hubungan darah, sampai demikian setiap dua spesies yang ada di bumi ini pada suatu saat dalam dalam sejarahnya mempunyai leluhur yangt sama.

Kedua, origin of spesies menyajikan sejumlah besar fakta yang dianggap oleh Darwin hanya dapat dijelaskan dengan teori evolusi, dan tidak cukup dengan teori penciptaan khusus. Bab ini kita akan membahas beberapa fakta dengan bukti lainnya yang telah dikemukakan oleh Darwin.

1. Bukti dari Paleontologi.
Paleontologi adalah mengenal fosil, mendefinisikan fosil sebagai setiap macam sisa organisme yang hidup dalam zaman geologi yang lampau. Dalam keadaan khusus, seluruh tubuh suatu organisme setelah mati dapat diawetkan, misalnya serangga yang terjerat di dalam getah conifer yang tumbuh disepanjang pantai laut Boiltik lebih dari 30 juta tahun yang lalu, sekarang terkubur dalam ambar dan dapat dipelajari dengan mudah seakan-akan baru saja mati. Akan tetapi, pengawetan total organisme mati sedemikian itu jarang terjadi, biasanya setelah mati, bagian-bagian lunak tubuh dengan cepat dirusak oleh pemakan bangkai atau busuk karena bakteri. Bagian keras seperti tulang atau cangkang, lebih tahan terhadap perusakan demikian, karena itu kemungkinannya lebih besar untuk menjadi fosil. Fosil-fosil ini malah dapat mengandung sisa-sisa bahan organic untuk jangka waktu yang sangat lama. Dari beberapa fosil yang berumur lebih dari 300 juta tahun telah ditemukan asam amino dan peptide. Bentuk fosil umum yang lain ialah pembatuan , yaitu suatu salinan pada batu dari berbagai tumbuhan atau hewan, semantara yang asli rusak, sedikit demi sedikit bagian itu diganti oleh endapan mineral. Proses ini dapat berlangsung begitu lama sehingga specimen ini tidak terdapat bahan aslinya. Meskipun demikian, ketepatan salinan tersebut membuat fosil itu tampak sama seperti spesimen yang asli. Perlu diperhatikan bahwa dalam suatu lokasi kita tidak akan pernah menemukan sejarah fosil yang tidak terputus. Pergolakan geologi tanah selalu diikuti oleh erosi, karena itu sebagaian dari catatan fosil dapat dilengkapi. Akan tetapi penemuan fosil terutama atas sisa-sisa kelompok “klimaks” yaitu populasi besar dari organisme yang sangat khusus akan berkembang dengan baik selama satu periode, menjadi punah bila keadaan bumi berubah.

2. Bukti dari Anatomi Perbandingan
Keanekaragaman anggota tubuh depan mamalian tersebut merupakan salah satu contoh organ yang homolog. Hal ini tidak begitu mengherankan mengingat bahwa kepercayaan kita pada semua organisme pada suatu waktu dalam ssejarah evolusinya mempunyai moyang yang sama. Homologi pada spesies-spesies yang berkeberatan jauh lebih sukar ditentukan meskipun bukti fosil sering merupakan pertolongan yang besar dalam hal ini. Suatu kelompok organ homolog yang patut mendapat perhatian khusus karena memberikan bukti adanya evolusi ialah organ-organ homolog yang pada beberapa spesies yang tidak jelas fungsinya. Jika semua spesies diciptakan secara khusus , maka hal ini merupakan perencanaan yang kurang baik untuk memasukkan bagian-bagian yang tidak berfungsi. Kenyataannya, kadang-kadang ada bayi yang lahir dengan ekor pendek, akan tetapi ekor tersebut dapat dibuang dengan mudah dan cepat.

3. Bukti dari Embriologi
Perkembangan embrio semua vertebrata memperlihatkan keseragaman yang mencolok. Hal ini terlihat jelas pada waktu terjadi pembelahan morfogenesis dan tahap diferensiasi awal. Persamaan-persamaan ini sering dipergunakan sebagai bukti hubungan evolusi antara vertebrata. Tentu saja seseorang dapat menyatakan bahwa hanya ada satu cara yang evektif bahwa seekor vertebrata dapat disusun dari telur yang telah dibuahi. Aspek ini adalah fakta bahwa struktur terlihat pada spesies yang lebih primitive, tetapi pada tahapan perkembangan lanjut menjadi lenyap atau berubah sedemikian rupa sehingga tidak dikenali lagi.

Gagasan bahwa perkembangan embrionik kita mengulangi perkembangan embrionik moyang kita disebut teori rekapitulasi . teori ini tidak hanya terbatas terhadap vertebrata. Ada beberapa bukti bahwa moyang insekta mempunyai sepasang kaki pada setiap segmen tubuhnya . dalam hal ini mereka mirip kaki seribu (milipeda) masa kini (pada hakekatnya milipeda dapat merupakan wakil jalur keturunan kedua dari bentuk-bentuk purba). Rekapitulasi terjadi secara biokimia maupun secara anatomi. Sebagaimana ikan mengekskresikan bagian besar limbah nitrogen yang utama. Sebenarnya berudu yang mirip ikan mengekskresikan ammonia, sampai mengalami metamorfosis menjadi kodok dewasa, baru kemudian limbah nitrogen utama berubah menjadi urea.

4. Bukti dari Biokimia Perbandingan
Studi anatomi perbandingan memperlihatkan adanya homologi anatomo, demikian pula studi biokimia dari macam-macam organisme telah mengungkapkan homologi biokimai. Pada kenyataannya, persamaan biokimia organisme hidup adalah salah satu cirri-ciri mencolok dari kehidupan .

Enzim-enzim sitokrom terdapat pada hamper setiap organisme hidup. Salah satu dari enzim ini, yaitu sitokrom c adalah rantai polipeptida yang terdiri atas 104 sampai 112 asam amino. Pada tahun-tahun belakangan ini telah ditentukan urutan asam amino yang pasti dalam rantai ini bagi sitokrom c dari beragam organisme seperti manusia, kelinci, ikan tuna dan sebagainya. Sitokrom c dari tanaman gandumberbeda dari kepunyaan kita dalam 35 asam amino. Hal ini termasuk satu bagian yang terdiri atas 11 asam amino yang beruntun yang terdapat pada semua organisme yang kita kenal. Kita mengetahui bagaimana urutan nukleotida dalam molekul DNA menjadi urutan asam aminodalam protein. Terdapatnya sitokrom c yang mengandung begitu banyak informasdi genetika yang sama pada gegitu banyak organisme tidak akan dapat dijelaskan tanpa menggunakan teori evolusi. Jelaslah fenomena ini berarti bahwa kita semua mewarisi gen ini dari nenek moyang yang sama sekalipun dengan akumulasi mutasi.

Alasan yang sama dapat diterapkan pada persamaan biokimia lainnya di antara organisme-organisme. Studi mengenal urutan asam amino pada hemoglobin mamalia memperlibatkan persaman yang dekat, terutama pada spesies-spesies yang diduga berkerabat dekat. DNA dan RNA terdapat pada setiap organisme hidup dan sepanjang pengetahuan kita, mengandung mekanisme penyandian hereditas yang sama. Selanjutnya sebagaian besar vertebrata mempunyai hormon-hormon yang sama atau mirip.

5. Bukti dari Struktur Kromosom.
Perbedaan-perbedaan yang membedakan satu spesies dari yang lainnya adalah dalam analisis terakhir yaitu genetika. Gen-gen dalam kromosom berdasarkan kriteria-kriteria seperti organ-organ homolog, semakin mirip kariotiknya. Kariotip sipanse dan kariotip orang hutan praktis tak dapat dibedakan dan, kecuali jumlah kromosomnya yang 48 berbeda dengan kromosom manusia yang berjumlah 46, sangat mirip dengan kariotip manusia. Walaupun demikian, dari segi yang menyangkut uraian kita yang mencolok, yaitu jumlah perpasang yang terjadi. Dengan mengetahui bagaimana tepatnya proses ini berlangsung, kita hanya dapat menyimpulkan bahwa spesies yang berbeda ini mempunyai kelompok besar bahan genetika yang identik. Contoh-contoh yang sama dapat ditemukan pada dunia tumbuhan dan dunia hewan. Yang paling menarik dalam hal ini ditemukan pada insekta yang mempunyai kromosom-kromosom raksasa.

6. Bukti dari Keserupaan Pelindung
Di daerah dengan polusi udara parah, campuran dari gas yang toksik dan jelala telah mematikan pertumbuhan likens itu dan menghitamkan cabang dan batang pohon. Dengan latar belakang yang demikian, ngengat yang berwarna cerah terlihat dengan tajam. Maka disiang hari Biston betularia dimana oleh burung dengan merenggutnya dari tempat istirahatnya. Di hutan tercemar, dapat diamati dengan mudah bahwa ngengat berwarna gelap akan mempunyai peluang jauh lebih baik dalam pelestariannya karena tersamar dan tak mudah ditemukan oleh pemangsa. Pada pengamatan yang teliti memperhatikan bahwa burung pemengsa memang memakan ngengat berwarna cerah yang dilepaskan dalam jumlah yang jauh lebih banyak dari pada ngengat yang berwarna gelap. Maka tidak heran behwa ngengat yang berwarna gelap lebih dominant di daerah ini. Akan tetapi dalam tahun-tahun akhir ini, studi lanjutan telah mengungkapkan bahwa ngengat berwarna cerah telah meningkat jumlahnya. Ini mungkin diakibatkan karena dari program ketat perbedaan asap yang berlaku efektif.

7. Bukti dari Penyebab Geografik
Penyebaran tumbuhan dan hewan di pulau-pulau samudra menunjang dengan kuat teori evolusi. Pulau-pulau samudra adalah yang tidak pernah berhubungan dengan salah satu dari wilayah benua Wallace. Banyak pulau-pulau itu timbul dari laut dan lautan yang relative baru (secara geologis) meskipun demikian semua pulau-pulau tersebut mepunyai kekayaan dan keanekaragaman fauna dan flora. Jika spesies tidak bermutasi kita sebaiknya berharap bahwa semua mahluk hidup yang menempati pulau-pulau demikian akan merupakan anggota spesies yang terdapat di benua. Anatomi di dalamnya memperlihatkan hubungan kekerabatan yang sebenarnya. Kita telah melihat bahwa Darwin mengumpulkan beberapa macam bukti untuk memperkuat pendiriannya bahwa spesies dapat berubah dan merupakan hasil evolusi. Tapi agaknya tidak ada bukti yang lebih penting bagi pemikiran dari pada contoh burung Finch tersebut di atas.

8. Bukti dari Domestikasi
Pembudidayaan tumbuhan dan hewan dengan sengaja oleh manusia selama ribuan tahun, keanekaragaman anjing peliharaan yang luat biasa mulai dari cihuahua samapi saint bernand, menunjukkan kemampunan kita untuk mengubah spesies dengan cara perkawinan selektif. Standar yang dipakai dalam menilai teori adalah kemampunannya untuk menjelaskan sebanyak mungkin fakta dengan cara yang paling sederhana sehingga memungkinkan ramalan fakta-fakta baru. Lambatnya kebanyakan perubahan evolusi yang terjadi telah menghambat aspek kedua dari teori evolusi akan tetapi dalam kemapuannya untuk memberikan suatu penjelasan sederhana dan luas mengenal sejumlah besar fakta teori evolusi. Teori evolusi benar-benar merupakan teori yang paling penting dalam biologi. Setiap aspek dari kehidupan yang dipelajari manusia, dari biokimia dan sitologi sampai antropologi dan sejarah, telah dihidupkan dan diperluas oleh teori tersebut. Sementara penyebaran hewan secara geografi telah memberikan pada Darwin bukti yang paling kuat bahwa evolusi telah terjadi, maka penelitiannya tentang proses domestikasi memberika kunci bagaimana evolusi itu terjadi. Inilah teori tentang mekanisme perubahan evolusi yang benar-benar membuat The origin of speseis suatu karya yang bersejarah.

B. Mekanisme Evolusi
Dua puluh dua tahun yang lalu sejak Darwin pulang dengan keyakinan akan kebenaran evolusi dan bukunya The Origin of Species diterbitkan. Selama waktu tersebut, Darwin mengumpuklan lebih banyak data lagi untuk memperkuat keyakinannya. Ia menemukan bahwa peternak dapat mengembangkan jenis baru hanya dari varian yang timbul secara spontan pada ternaknya. Yaitu, hanya jika beberapa hewan dilahirkan lebih berat atau lebih besar atau warna bulunya lebih gelap dibandingkan dengan yang lain, maka peternak dapat mengembangkan jenis yang lebih berat atau lebih tinggi atau berbulu lebih gelap. Darwin juga menyadari bahwa varian ini tidak dapat timbul hanya sekedar karena di tempatkan di lingkungan lain. Individu-individu yang yang lebih besar hanya karena makanan yang lebih baik tidak akan dapat menyediakan bahan baku untuk jenis yang lebih besar. Hanyalah variasi terwariskan yang dapat memenuhi tujuan ini. Ada dua bentuk variasi yaitu:

a. Variasi tak terputus
Banyak sifat yang ditemukan dalam suatu populasi tumbuhan atau hewan bervariasi dalam suatu cara yang tak terputus dan halus dari satu ekstrem ke ekstrem yang lain. Berat tubuh, panjang tubuh, dan warna bulu, baru tiga sifat yang dari padanya kita harapkan dapat ditemukan variasi yang sangat banyak.

b. Variasi terputus
Untuk sifat-sifat tertentu, individu-individu dari beberapa populasi dapat dibagi dalam dua kelompok yang jelas tanpa adanya kelompok antara. Fakta bahwa semua manusia mempunyai satu dari empat golongan darah ABO merupakan contoh variasi yang terputus-putus. Variasi seperti ini disebut polimorfisme.

Baik variasi yang terputus maupun yang tak terputus dapat menjadi bahan baku evolusi hanya saja jika timbulnya disebabkan oleh factor-faktor menurun dan bukan karena factor lingkungan. Sifat ini dikatakan mempunyai daya temurun (heretabilitas) yang tinggi. Sebaliknya jika keturunannya mampunyai kisaran yang sama dengan rata-rata populasi, maka hanya factor lingkungan yang bekerja. Sifat seperti ini dikatakan mampunyai heritabilitas nol.

Tidak ada spesies hidup yang tidak dapat mengisi penuh habitat dengan jenisnya jika tersedia makanan yang yang tak terbatas dan factor lain dalam lingkungannya itu menguntungkan. Beberapa akan melaksanakannya lebih cepat dari yang lain. Nyatanya setiap spesies yang dalam masa hidupnya menghasilkan lebih dari dua keturunan yang hidup, akan bertambah jumlahnya kecuali jika kelebihan itu mati sebelum memberi keturunan. Skala waktu berbeda untuk berbagai spesies, tetapi potensi untuk pertumbuhan eksponensial ada pada semua spesies. Ketentuan yang mengendalikan pertumbuhan populasi yang eksponensial adalah berupa sejumlah factor yang bekerja dan bersamaan yang oleh Darwin disebut seleksi ilmiah. Teori seleksi alamiah Darwin merupakan kesimpulan berdasarkan tiga factor alam yang dapat diamati dan dari suatu kesimpulan pendahuluan. Ringkasan teori tersebut adalah sebagai berikut:

Fakta 1 : Semua spesies mempunyai potensi reproduksi yang tinggi. Dari bakteri sampai gajah, mempunyai kemampuan untuk memenuhi dunia ini dengan jenisnya.
Fakta 2 : Kecuali fluktuasi yang kecil, populasi spesies apapun dari tahun ke tahun agak konstan.

Kesimpulan 1 : Karena itu, kita harus menyimpulkan bahwa semua mahluk menghadapi perjuangan untuk eksistensi yang terus menerus, yaitu perjuangan yang banyak diantara mereka akan mati muda.
Fakta 3 : Terdapat variasi yang diturunkan diantara individu tiap spesies.
Kesimpulan 2 : Karena itu, kita dapat menyimpulkan bahwa individu yang variasinya paling cocok untuk lingkungannya mempunyai kemungkinan besar untuk bertahan hidup.

Kemampuan sebagai konsep biologi hanya dapat diukur dalam menghasilkan keturunan dewasa. Individu dalam suatu populasi yang dapat menghasilkan keturunan dewasa dalam jumlah yang paling besar, itulah yang disebut paling mampu. Dalam hal ini beberapa mekanisme memegang peranan:
1. Kelangsungan Hidup
Mungkin unsur yang paling penting dalam kemampuan hanyalah kelangsungan hidup sampai masa reproduksi. Jika tiap sifat yang dapat meningkatkan kesempatan organisme untuk tetap hidup pada dan melalui periode reproduksi ini membuat organisme itu lebih mampu dari pada individu lain dalam spesies itu. Kita namakan sifat-sifat itu adaptasi. Sifat ini dapat menyangkut perubahan dalam struktur tubuh, perubahan dalam fisiologi, perubahan dalam prilaku, atau perubahan semua sifat tersebut.

2. Seleksi Seksual
Tiap sifat yang diwariskan, yang membuat beberapa individu lebih menarik bagi lawan jenis dari pada individu lain, akan menyebabkan mereka lebih berhasil dalam perkawinan. Akibatnya dalam generasi berikutnya proporsi sifat yang diturunkan akan lebih besar. Penelitian mengenai beberapa sifat yang menyangkut seleksi seksual mengungkapkan bahwa dampak evolusi seleksi seksual tidak selamanya searah dengan seleksi ketahanan hidup individu. Sifat-sifat yang terseleksi secara seksual, dan akan terus meningkat pada generasi-generasi berikutny, mungkin dapat menyebabkan hewan itu kurang teradaptasi dengan lingkungannya.

3. Ukuran Keluarga
Setiap sifat yang menyebabkan hewan mepunyai keturunan dewasa dalam jumlah besar juga merupakan ukuran kemampuan. Perlu ada penekanan pada keturunan dewasa karena hanya mereka yang dapat mewariskan sifat-sifat itu pada generasi berikutnya.

Salah satu kecaman terhadap seleksi alamiah Darwin adalah bahwa teorinya tidak dapat menjelaskan bagaimana sifat-sifat yang diinginkan diwariskan dari generasi-kegenerasi yang berikutnya. Dengan kata lain, Darwin tidak dapat menjelaskan mekanisme pewarisan sifat.


C. Hukum Hardy-Weinberg
G.H. Hardy seorang ahli matematik inggris dan W. Weinberg seorang dokter Jerman yang merumuskan hukumnya sebagai berikut :

Di dalam suatu kondisi tertentu frekuensi gen dan frekuensi genotip akan tetap sama atau konstan dari satu generasi kegenerasi lain dalam populasi yang berbiak secara seksual. Yang dimaksud dengan kondisi tertentu ialah kondisi dimana :
1. Tak terjadi seleksi natural yaitu kemampuan yang sama dalam reproduksi.
2. Tak terjadi migrasi ke atau dari populasi.
3. tak terjadi mutasi atau mutasi ke dua arah adalah seimbang.
4. populasi harus cukup besar sehingga suatu perubahan yang kebetulan tidak mengubah frekuensi gen secara berarti.
5. perkawinan harus sama sekali sembarang.

Jika kita meninjau apa yang dimaksud oleh Hardy dan Weinberg dengan hukumnya itu. Kita ambil contoh, misalnya suatu populasi mempunyai frekuensi gen A = p dan a = q. maka karena pada kromosom homolog hanya terdapat sepasang locus untuk A dan a, maka p + q = 1. jadi spermatozoa yang dihasilkan oleh pria dalam populasi itu sebanyak p akan mengandung A dan sebanyak q akan mengandung gen a. demikian juga perbandingan sel telur yang mengandung A = p dan yang mengandung a = q. peleburan antara sel telur dan sperma dalam gen pool populasi itu adalah sebagai berikut.
(gambar tidak terlihat. download file aslinya disini)

Untuk membuktikan bahwa perbandingan ratio p2 (AA) : 2 pq (Aa) : q2(aa) benar-benar dalam keseimbangan, maka kita lihat bagaimana perbandingan baru gamet-gamet A dan a yang akan dihasilkan oleh generasi ini. Individu-individu AA akan menghasilkan gamet-gamet A saja. Individu-individu Aa akan menghasilkan ½ gamet A dan ½ gamet a. individu –individu aa akan menghasilkan gamet-gamet a saja.
Jadi perbandingan gamet-gamet setelah satu generasi lewat menjadi :
Gamet A ialah p2 + ½ (2pq) = p (p+q) = p
Gamet a ialah q2 + ½ (2pq) = q (p+q) = q

Seleksi alamiah dapat dipengaruhi penyebaran fenotipe dalam suatu populasi dengan 3 cara :
1. Seleksi stabil
Disini individu-individu pada setiap ekstrem akan disingkirkan. Disamping meningkatkan keberhasilan reproduksi fenotif yang mendekati nilai rata-rata.

2. Seleksi berarah
Suatu populasi mungkin dapat berada dalam keadaan dimana individu-individu yang menempati suatu ekstrem dari kisaran fenotif lebih disukai dari pada yang lain-lain. Hal ini dapat terjadi sebagai akibat perubahan pada lingkungan fisiknya.

3. Seleksi diskruptif
Seleksi diskruptif adalah suatu keadaan tertentu dimana individu pada kedua ekstrem dari kisaran fenotifnya lebih sesuai daripada yang terdapat di tengah-tengah. Seleksi diskruptif dapat menghasilkan terpecahnya lungkang (pool) gen tunggal menjadi dua lungkang gen yang yang berbeda. Hal ini dapat merupakan satu cara pembentukan spesies baru.

Spesiasi adalah pembentukan satu atau lebih spesies turunan dari satu spesies moyang. Pada umumnya spesiasi mensyaratkan bahwa spesies moyang harus terpisah menjadi 2 atau lebih sub populasi yang terpisah secara geografik, padanya seleksi alamiah dan penyimpangan bekerja secara berbeda untuk membentuk lingkang gen yang berbeda. Kalaupun dua spesies yang masih tingkat permulaan ini bersatu kembali, mereka akan saling berkawin lagi dan membentuk lagi satu gen. ada kemungkinan satu atau lebih mekanisme isolasi akan mencegah berhasilnya saling berkawinan. Dalam hal demikian, persaingan yang hebat anatara mereka mungkin akan menimbulkan seleksi direksional yang akan mengurangi kehebatan persaingan tersebut. Akhirnya, akan tiba suatu saat ketika kedua spesies baru tersebut secara genetic tak mampu lagi melaksanakan kawin silang dengan sukses. Spesiasipun telah selesai

Kalau mau download aslinya, silahkan klik disini.

RADIOAKTIF

Ini adalah tugas kuliah Radiokimia. Di dalamnya banyak yang berubah waktu di copy paste ke blog. tapi saya udah siapin aslinya, yang dalam bentuk documen. Bagi yang berminat, silahkan download disini.

1.1 Sejarah Radioaktif
Pada tahun 1986 Antoine Henry Becquerel menemukan bahwa garam Uranium dapat memancarkan sinar yang tidak tampak dan mempunyai daya tembus yang kuat, dapat menghitam plat film, mengionkan gas dan dapat menembus benda-benda tertentu. Selang beberapa waktu setelah itu, Pierre dan Marie Currie ketika sedang melakukan ekstraksi Uranium dari bahan tambang pitchblende dalam laboratorium yang sama, telah menemukan dua unsur lain yang juga tergolong unsur radioaktif. Unsur yang pertama dinamakan Polonium sesuai dengan negara asal Marie Currie, yaitu Polandia. Unsur yang kedua ternyata seribu kali lebih radioaktif daripada Uranium yang disebut dengan Radium (Beiser, 1984).

1.2 Pengertian Radioaktif
Radioaktivitas didefinisikan sebagai peluruhan inti atom yang berlangsung secara spontan, tidak terkontrol dan menghasilkan radiasi. Unsur yang memancarkan radiasi seperti ini dinamakan materi radioaktif. Secara garis besar inti atom akan berada dalam dua keadaan dasar yaitu keadaan stabil dan keadaan tidak stabil yang ditentukan oleh komposisi partikel penyusun inti. Keadaan stabil dicapai apabila jumlah proton (Z) lebih sedikit atau sama banyak dengan jumlah netron. Keadaan ini memungkinkan gaya inti lebih besar dibandingkan dengan gaya elektrostatis. Sedangkan, keadaan tidak stabil dicapai apabila jumlah proton (Z) lebih besar dari jumlah netron (N). Hal ini akan menyebabkan gaya elektrostatis jauh lebih besar dibandingkan dengan gaya inti. Mengapa gaya elektrostatis pada keadaan tidak stabil lebih besar? Karena gaya elektrostatis memiliki jangkauan yang lebih luas dibandingkan dengan gaya inti, sekalipun partikel proton saling berdekatan dan berseberangan. Inti atom seperti inilah yang akan melakukan aktivitas radiasi secara spontan sampai tercapai keadaan stabil. Keadaan inti dengan jumlah proton (Z) lebih besar dari jumlah netron (N) akan menghasilkan zat radioaktif. Gambar berikut menunjukkan karakteristik gaya inti dan gaya elektrostatis di dalam inti atom (E-dukasi, 2009).Jadi suatu zat (unsur) akan menjadi radioaktif jika memiliki inti atom yang tidak stabil. Suatu inti atom berada dalam keadaan tidak stabil jika jumlah proton jauh lebih besar dari jumlah netron. Pada keadaan inilah gaya elektrostatis jauh lebih besar dari gaya inti sehingga ikatan atom – atom menjadi lemah dan inti berada dalam keadaan tidak stabil (E-dukasi, 2009).

1.3 Sifat Materi Radioaktif
Materi atau zat radioaktif mampu memancarkan radiasi secara spontan atau serta merta. Radiasi atau partikel yang dipancarkan melaju dengan energi yang cukup besar yang selanjutnya dikenal sebagai radiasi atau sinar radioaktif. Jenis radiasi yang dipancarkan oleh material radioaktif antara lain radiasi alfa (α) atau inti nuklida He-4 yang dituliskan sebagai 2He4, radiasi beta (β) atau elektron yang bermuatan listrik negatif seterusnya disimbolkan sebagai -1eo, radiasi positron atau elektron yang bermuatan listrik positif disimbolkan sebagai +1eo, radiasi proton bermuatan listrik +1 yang disimbolkan sebagai +1p1 atau sebagai 1H1, radiasi netron yang massanya ekuivalen dengan massa proton tetapi tidak bermuatan atau netral yang dituliskan sebagai 1no dan sinar gamma (γ) yang merupakan gelombang electromagnet (Retug, 2005).
Sifat–sifat sinar radioaktif itu adalah seperti berikut.

a. Sinar Alfa
Sinar alfa merupakan radiasi partikel yang bermuatan positif. Partikel sinar alfa sama dengan inti helium -4, bermuatan +2e dan bermassa 4 sma. Partikel alfa adalah partikel terberat yang dihasilkan oleh zat radioaktif. Sinar alfa dipancarkan dari inti dengan kecepatan sekitar 1/10 kecepatan cahaya. Karena memiliki massa yang besar, daya tembus sinar alfa paling lemah diantara sinar-sinar radioaktif. Di udara hanya dapat menembus beberapa cm saja dan tidak dapat menembus kulit. Sinar alfa dapat dihentikan oleh selembar kertas biasa. Sinar alfa segera kehilangan energinya ketika bertabrakan dengan molekul media yang dilaluinya. Tabrakan itu mengakibatkan media yang dilaluinya mengalami ionisasi. Akhirnya partikel alfa akan menangkap 2 elektron dan berubah menjadi atom helium (E-dukasi, 2009).

b. Sinar beta
Sinar beta merupakan radiasi partikel bermuatan negatif. Sinar beta merupakan berkas elektron yang berasal dari inti atom. Partikel beta yang bemuatan -l e dan bermassa 1/836 sma. Karena sangat kecil, partikel beta dianggap tidak bermassa sehingga dinyatakan dengan notasi -1eo. Energi sinar beta sangat bervariasi, mempunyai daya tembus lebih besar dari sinar alfa tetapi daya pengionnya lebih lemah. Sinar beta paling energetik dapat menempuh sampai 300 cm dalam udara kering dan dapat menembus kulit (E-dukasi, 2009).

c. Sinar Gamma
Sinar gamma adalah radiasi elektromagnetik berenergi tinggi, tidak bermuatan dan tidak bermassa. Sinar gamma dinyatakan dengan notasi 1no. Sinar gamma mempunyai daya tembus. Selain sinar alfa, beta, gamma, zat radioaktif buatan juga ada yang memancarkan sinar X dan sinar Positron. Sinar X adalah radiasi sinar elektromagnetik (E-dukasi, 2009).

1.4 Keberadaan Materi Radioaktif
Berdasarkan asalnya sumber radiasi pengion dapat dibedakan menjadi dua yaitu sumber radiasi alam yang sudah ada di alam ini sejak terbentuknya, dan sumber radiasi buatan yang sengaja dibuat oleh manusia untuk berbagai tujuan (Ingebinzoez, 2009).

A.Sumber Radiasi Alam
Radiasi yang dipancarkan oleh sumber radiasi alam disebut sebagai radiasi latar belakang. Radiasi ini setiap harinya memapar manusia dan merupakan radiasi terbesar yang diterima oleh manusia yang tidak bekerja di tempat yang menggunakan radioaktif atau yang tidak menerima radiasi berkaitan dengan kedokteran atau kesehatan. Radiasi latar belakang yang diterima oleh seseorang dapat berasal dari tiga sumber utama yaitu :

1. Sumber radiasi kosmis
Radiasi kosmis berasal dari angkasa luar, sebagian berasal dari ruang antar bintang dan matahari. Radiasi ini terdiri dari partikel dan sinar yang berenergi tinggi dan berinteraksi dengan inti atom stabil di atmosfir membentuk inti radioaktif seperti Carbon-14, Helium-3, Natrium-22, dan Be-7. Atmosfir bumi dapat mengurangi radiasi kosmik yang diterima oleh manusia. Tingkat radiasi dari sumber kosmik ini bergantung kepada ketinggian, yaitu radiasi yang diterima akan semakin besar apabila posisinya semakin tinggi. Selain itu juga, radiasi ini tergantung pada letak geografisnya (Ingebinzoez, 2009).

2. Sumber radiasi terestrial
Radiasi terestrial secara natural dipancarkan oleh radionuklida yang disebut primordial di dalam kerak bumi. Radionuklida yang ada dalam kerak bumi terutama adalah deret Uranium, yaitu peluruhan berantai mulai dari Uranium-238, Plumbum-206, deret Actinium (U-235, Pb-207) dan deret Thorium (Th-232, Pb-208). Radiasi teresterial terbesar yang diterima manusia berasal dari Radon (R-222) dan Thoron (Ra-220) karena dua radionuklida ini berbentuk gas sehingga bisa menyebar kemana-mana. Tingkat radiasi yang diterima seseorang dari radiasi teresterial ini berbeda-beda dari satu tempat ke tempat lain yang bergantung pada konsentrasi sumber radiasi di dalam kerak bumi (Ingebinzoez, 2009).

3. Sumber radiasi internal yang berasal dari dalam tubuh sendiri
Sumber radiasi ini ada di dalam tubuh manusia sejak dilahirkan dan bisa juga masuk ke dalam tubuh melalui makanan, minuman, pernafasan, atau luka. Radiasi internal ini terutama diterima dari radionuklida C-14, H-3, K-40, Radon, selain itu masih ada sumber lain seperti Pb-210, Po-210, yang banyak berasal dari ikan dan kerang-kerangan. Buah-buahan biasanya mengandung unsur K-40 (Ingebinzoez, 2009).

B.Sumber Radiasi Buatan
Sumber radiasi buatan telah diproduksi sejak abad ke 20, dengan ditemukannya sinar-X oleh WC Rontgen. Saat ini sudah banyak sekali jenis dari sumber radiasi buatan baik yang berupa zat radioaktif dan sumber pembangkit radiasi (pesawat sinar-X dan akselerator).
Radioaktif dapat dibuat oleh manusia berdasarkan reaksi inti antara nuklida yang tidak radioaktif dengan neutron atau biasa disebut sebagai reaksi fisi di dalam reaktor atom. Radionuklida buatan ini bisa memancarkan radiasi alpha, beta, gamma dan neutron (Ingebinzoez, 2009).

1.5 Bahaya Radiasi Radioaktif dan Dampaknya
Menurut penelitian radiasi radioaktif dapat bersifat berbahaya dan dapat juga menguntungkan bagi makhluk hidup. Bahaya radiasi radioaktivitas dibedakan menjadi dua macam yaitu bahaya radiasi eksternal dan bahaya radiasi internal.
a. Bahaya Radiasi Eksternal
Bahaya radiasi eksternal berasal dari sumber radiasi yang terletak diluar tubuh manusia, tetapi walaupun berada di luar tubuh manusia tetap berbahaya jika sampai masuk ke dalam tubuh manusia. Bahaya radiasi eksternal dapat diakibatkan oleh paparan radiasi beta, sinar X, gamma/netron, yang semuanya dapat menembus organ tubuh manusia (Siminiputih, 2008).

b. Bahaya Radiasi Internal
Bahaya radiasi internal artinya unsur radioaktif tersebut tidak berbahaya jika hanya berada di luar tubuh manusia karena jangkauannya sangat pendek tetapi dapat menjadi berbahaya apabila masuk ke dalam tubuh manusia (Siminiputih, 2008).

c. Dampak Zat Radioaktif
Pengertian dari pencemaran radioaktif adalah suatu pencemaran lingkungan yang disebabkan oleh debu radioaktif akibat terjadinya ledakan reaktor-reaktor atom serta bom atom. Yang paling berbahaya dari pencemaran radioaktif seperti nuklir adalah radiasi sinar alpha, beta dan gamma yang sangat membahayakan makhluk hidup di sekitarnya. Selain itu partikel-partikel neutron yang dihasilkan juga berbahaya. Zat radioaktif pencemar lingkungan yang biasa ditemukan adalah 90SR merupakan karsinogen tulang dan 131J (Siminiputih, 2008).

Apabila ada makhluk hidup yang terkena radiasi atom nuklir yang berbahaya biasanya akan terjadi mutasi gen karena terjadi perubahan struktur zat serta pola reaksi kimia yang merusak sel-sel tubuh makhluk hidup baik tumbuh-tumbuhan maupun hewan atau binatang (Siminiputih, 2008).

Efek serta akibat yang ditimbulkan oleh radiasi zat radioaktif pada umat manusia adalah pusing-pusing, nafsu makan berkurang atau hilang, diare, badan panas atau demam, berat badan turun, kanker darah atau leukemia, meningkatnya denyut jantung atau nadi, daya tahan tubuh berkurang sehingga mudah terserang penyakit akibat sel darah putih yang jumlahnya berkurang (Siminiputih, 2008).

1.6 Manfaat Materi Radioaktif
a. Bidang Kedokteran
Berbagai jenis radioisotop digunakan sebagai perunut untuk mendeteksi (diagnosa) berbagai jenis penyakit seperti talium-201 (Ti-201), iodine 131 (I-131) dan besi (Fe-59). I-131 akan diserap oleh kelenjar gondok, hati dan bagian – bagian tertentu dari otak. Oleh karena itu, I-131 dapat digunakan untuk mendeteksi kerusakan pada kelenjar gondok, hati dan untuk mendeteksi tumor otak. Larutan garam yang mengandung Na-24 disuntikkan ke dalam pembuluh darah untuk mendeteksi adanya gangguan peredaran darah misalnya apakah adanya penyumbatan dengan mendeteksi sinar gamma yang dipancari isotop natrium tersebut (Ingebinzoez, 2009).

b. Bidang Industri
Untuk mempelajari pengaruh oli dan aditif pada mesin selama mesin bekerja digunakan suatu isotop sebagai perunut, dalam hal ini piston, ring dan komponen lain dari mesin ditandai dengan isotop radioaktif dari bahan yang sama (Ingebinzoez, 2009).

c. Bidang Biologis
1. Mempelajari kesetimbangan dinamis
2. mempelajari reaksi pengesteran
3. mempelajari mekanisme reaksi fotosintesis (Ingebinzoez, 2009)
d. Bidang Pertanian

1)Pemberantasan hama dengan teknik jantan mandul
Radiasi dapat mengakibatkan efek biologis, misalnya hama kubis. Di laboratorium dibiakkan hama kubis dalam bentuk jumlah yang cukup banyak. Hama tersebut lalu diradiasi sehingga serangan jantan menjadi mandul. Setelah itu hama dilepas di daerah yang terserang hama. Diharapkan akan terjadi perkawinan antara hama setempat dengan jantan mandul dilepas. Telur hasil perkawinan seperti itu tidak akan menetas, sehingga reproduksi hama tersebut akan terganggu dan akan mengurangi populasi (Ingebinzoez, 2009).

2) Pemuliaan Tanaman
Pemuliaan tanaman atau pembentukan bibit unggul dapat dilakukan dengan menggunakan radiasi. Misalnya, pemuliaan padi, bibit diberi radiasi dengan dosis yang bervariasi, dari dosis terkecil yang tidak membawa pengaruh hingga dosis rendah yang mematikan. Biji yang sudah diradiasi itu kemudian disemaikan dan ditanaman berkelompok menurut ukuran dosis radiasinya (Ingebinzoez, 2009).

1.7 Pengelolaan Materi Radioaktif
Sebenarnya materi radioaktif dapat dikendalikan dan dikelola untuk mengurangi dampak negatifnya. Beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk mengurangi dampak negatif tersebut adalah sebagai berikut.
1. Sumber radiasi yang tidak digunakan harus dikembalikan ke tempat penyimpanan yang telah ditentukan untuk menurunkan tingkat paparan radiasi di lingkungan kerja.
2. Sumber yang digunakan harus diambil dari tempat penyimpanan setiap kali eksperimen dan dikembalikan lagi setelah setelah selesai eksperimen.
3. Medan radiasi dari berkas dibatasi dengan menggunakan alat kolimator.
4. Pengecekan secara berkala untuk memastikan jumlah dan aktivitas sumber.
5. membatasi produk dari radioaktivitas (Forumkimia, 2009).

Rabu, 04 Agustus 2010

Kekerasan di Balik Gerakan "MAHASISWA"

Selama tahun 1998, kita menyaksikan meningkatnya millitansi gerakan mahasiswa. Dimulai dengan aksi-aksi protes, menyebar di berbagai daerah dengan tuntutan penegakan pemerintahan yang bersih dan berwibawa. Puncaknya adalah pada bulan Mei, dimana pergerakan mahasiswa Indonesia berhasil menduduki gedung DPR/MPR dan berhasil memaksa turun Presiden Soeharto dari jabantannya.


Pada bulan september, aksi protes mahasiswa muncul kembali. Kali ini dengan tuntutan agar Soeharto diadili, dicabutnya dwi fungsi ABRI dan dibatalkannya sidang istimewa MPR. Pemerintahan Habibie menanggapi gelombang protes ini dengan kekerasan yang mengakibatkan terbunuhnya sejumlah mahasiswa di berbagai kota. Dimana tragedi terbesar saat itu yang masih kita peringati sampai sekarang adalah “Tragedi Semanggi” pada pertengahan bulan November. Langkah-langkah kekerasan yang dilakukan pemerintah terbukti tidak menyurutkan gerakan mahasiswa. Dengan memamfaatkan berbagai isu, hari besar nasional dan internasional, mahasiswa terus turun ke jalan.


Pemerintahan transisi yang baru yang terus menerus menjanjikan akan memperbaiki dirinya tidak berhasil meredam gerakan mahasiswa ini. Kekerasan aparat fan oknum yang terjadi justru melahirkan tuntutan baru yang semakin meluas, yaitu dihapuskannya kekerasan negara.


Memang kita tidak bisa menyangkal akan adanya kekerasan yang dilakukan oleh pemerintah, terutama oleh oknum-oknum di lapangan yang menyebabkan terlukanya mahasiswa, bahkan sampai meninggal dunia. Namun di balik tindak kekerasan tersebut, beberapa sumber menyatakan bahwa kekerasan tidak akan terjadi jika mahasiswa tidak mendahului untuk bertindak keras, melemparkan batu dan bom monotov, merusak fasilitas umum, serta memamfaatkan situasi untuk menjarah barang yang bukan miliknya.

Yah, yang namanya provokator kan bisa saja ada di kedua belah pihak. Baik dari yang menuntut, ataupun dari yang mengamankan. Bedanya, yang mengamankan memiliki alat pengamanan yang mematikan dan tidak dimiliki oleh mahasiswa. Ke depannya, yang menjadi pertanyaan adalah apakah mahasiswa tetap akan melanjutkan pergerakan pendahulunya untuk merubah pemerintahan menjadi lebih baik?

Jika memang akan dilanjutkan, pertanyaan selanjutnya adalah apakah mahasiswa mampu membersihkan diri dari provokator saat demo, tidak melakukan tindakan yang merugikan masyarakat, serta melakukan demo tanpa emosi? Jika jawaban dari pertanyaan itu bisa dilaksanakan dengan baik, maka pastilah pihak keamanan juga tidak akan melakukan tindakan kekerasan dalam mengamankan kegiatan demonstrasi mahasiswa.